Kaum Milenial Perlu Lawan Terorisme dengan Konten Positif di Medsos

Denpasar (KP)-Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme Provinsi (FKPT) Bali menggelar Literasi Digital sebagai upaya pencegahan radikalisme dan terorisme di masyarakat di Kuta Bali, Senin (5/11). Kegiatan Literasi Digital tersebut dihadiri oleh puluhan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bali, para penggiat media sosial, para blogger, para youtubers dan wartawan dari berbagai media di Bali. Kegiatan Literasi Digital tersebut dibuka langsung oleh Kasubdit Pengamanan Lingkungan dari Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi BNPT Rahmat Suhendro. Kegiatan yang didominasi kaum milenial ini diikuti dengan sangat antusias karena dikemas dengan sangat bagus oleh panitia.

Ketua Panitia Literasi Digital Eman Dewata Oja mengatakan, sudah saatnya kaum milenial penggemar Medsos, para blogger, para youtubers dilatih atau minimal mengetahui manakah konten radikal, konten terorisme dan sebagainya. “Saat ini media mainstream sudah dikalahkan dengan media sosial. Bahkan tidak jarang media mainstream mengambil isu dari media sosial untuk dijadikan berita. Hal yang sama juga terjadi dengan isu tentang radikalisme, terorisme dan kekerasan lainnya. Para nitizen lebih cepat percaya dan share berita yang belum tentu benar dan bahkan cenderung hoax dan dibuat-buat. Untuk itulah, hari ini kami mengundang para pembicara yang berkompeten untuk memberikan tips-tipsnya dalam menangkal isu radikalisme melalui media sosial. Intinya, para nitizen saring terlebih dahulu sebelum Sharing,” ujarnya.

Pembicara Imam Mahmudi dari Dewan Pers mengatakan, para teroris dan kaum radikalis memang sudah sering menggunakan media sosial untuk melakukan propaganda ideologinya. Dan bila kaum nitizen tidak memiliki trik atau pengetahuan yang baik untuk menyikapinya, maka mereka akan menelan mentah-mentah dan percaya dengan propaganda tersebut. Namun menariknya, dari propaganda bohong dan merusak generasi bangsa tersebut, kemudian dikutip oleh media, baik media yang resmi dan besar maupun media abal-abal. “Biasanya, awalnya dikutip oleh media kecil dan abal-abal. Makin lama isu ini makin besar. Setelah itu diambil oleh media besar lalu menjadi berita. Maka rusaklah negeri ini dengan isu hoax, dan media besar yang resmi akhirnya ikut memberitakan yang hoax walau dengan mengutip beberapa narasumber resmi yang mengomentari dan mengcounter hoax itu. Jadi sebenarnya berita itu hoax awalnya. Dan ini sering terjadi di negeri ini,” ujarnya.

Untuk itu, mau tidak mau, suka tidak suka para generasi milenial ini harus dilatih untuk membuat konten positif di Medsos, entah itu melalui blog, video blog, Facebook, Twitter dan sebagainya. Tidak ada cara lain yang paling efektif untuk melawan isu radikalisme dan terorisme melalui Medsos, selain melawan dengan konten positif. Konten positif akan memberikan energi yang positif kepada para pembacanya. “Jadi, bila menemukan konten negatif, terutama tentang radikalisme, terorisme, maka adalah tugas semua elemen bangsa untuk melawannya dengan konten positif. Ini adalah cara paling efektif untuk melawan radikalisme dan terorisme di Indonesia. Di Indonesia masih banyak orang baik, tetapi kalau jumlahnya banyak itu hanya diam diam saja maka orang jahat akan menang walau sedikit. Makanya saatnya kita bergerak bersama melawan dengan konten positif,” ujarnya. A05

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *