Minta Kekasih Gugurkan Kandungan, Pengusaha Keturunan Arab di Bali Dilaporkan ke Polisi

Denpasar[KP]-Seorang pengusaha keturunan Arab di Bali berinisia FS dilaporkan ke polisi oleh mantan kekasihnya karena memaksa agar kekasihnya menggugurkan kandungan. Pelapor yakni wanita mudah asal Tangerang berinisial ELG (27). Wanita yang tinggaldi Kecamatan Denpasar Utara melaporkan kasus percobaan pembunuhan janin atau aborsi yang dilakukan keluarga mantan pacarnya FS. Rencana tindak pidana ini berawal dari diketahuinya ELG hamil di luar pernikahan, sehingga keluarga dari pihak laki-laki menganggapnya sebagai aib. 

Didampingi kuasa hukumnya, Siti Sapura alias Ipung, ELG mengungkapkan upaya percobaan aborsi yang dilakukan oleh pihak mantan pacarnya. Bayi yang sempat terancam aborsi tersebut akhirnya berhasil dilahirkan setelah sempat empat kali mengalami pendarahan.
Saat dikonfirmasi sejumlah media di Denpasar, ELG yang didampingi Ipung menyampaikan bahwa ia dan terlapor FS alias Faris (28) yang merupakan pengusaha keturunan Arab saling kenal pada tahun 2018. Perkenalan bermula dari ELG yang membantu temannya untuk melamar kerja di tempat FS. Dari perkenalan tersebut berlanjut hubungan kedekatan antara keduanya layaknya seorang kekasih atau pacaran. Karena atas dasar suka sama suka dan masih berstatus pacaran, ELG akhirnya hamil sekitar April 2021 lalu. Pihak terlapor (FS) yang mengetahui kehamilan ELG dan ia beberapa kali meminta agar ELG untuk segera menggugurkan kandungan. “Waktu itu saya tahu kalau saya telat. Saya berkomunikasi dengan pasangan saya. Pasangan saya pun responnya tidak baik. Dia dari awal berusaha mencari cara untuk bagaimana caranya agar bayi dalam kandungan saya digugurkan melalui temannya yang seorang bidan,” ungkapnya. Pihak FS menganggap anak tersebut membawa aib baginya kendati benar anaknya. FS juga membujuk ELG untuk meminum obat penggugur kandungan. Namun permintaan tersebut ditolak ELG. “Katanya tetap membawa aib dia ke dunia,” jelasnya.
Tak berselang lama, kedua belah pihak keluarga besar mengadakan pertemuan. Pada pertemuan tersebut keluarga FS menyanggupi mencarikan dokter untuk menggugurkan kandungan ELG. Permintaan tersebut langsung ditolak oleh pihak ELG dan keluarga besarnya. Pertemuan keluarga besar berlanjut kedua kalinya dan permintaan keluarga FS tetap agar kandungan tersebut digugurkan. “Orang tua pasangan saya yakni FS tidak menerima saya. Dan meminta saya mengaborsikan anak saya juga. Dan orangtua pasangan saya bersedia mencarikan dokter yang terbaik, paling mahal yang bisa dia kasih ke saya,” jelasnya.
Karena penolakan dari pihak keluarga ELG untuk melakukan aborsi, komunikasi keduanya akhirnya terputus. Dua bulan kemudian setelah pertemuan tersebut, FS menghubungi ELG untuk mengajaknya kontrol kandungan, dan mengiming-iminginya menikah. FS berencana mengajak ELG menikah di Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Dua minggu kemudian, rencana pernikahan di luar kota yang direncanakan batal. FS berubah pikiran mengajak ELG menikah di Denpasar. “Saat itu saya menyanggupi saya pikir Faris sudah terketuk hatinya mau bertanggungjawab untuk anaknya. Saya mengiyakan tawaran tersebut,” ungkapnya.
Kemudian keduanya mengurus beberapa persyaratan pernikahan yang dibutuhkan di kecamatan masing-masing. Setelah surat lengkap dan tinggal menyerahkan berkas ke KUA. Berkas milik FS disita orangtuanya, dan FS menyampaikan orangtuanya menyarankan nikah siri saja. “Saat itu kandungan saya sudah 5-6 bulan. Dapat berita tersebut saya syok. Saya stress banget. Selama kehamilan saya, saya pun 4 kali pendarahan gara-gara stress mikirin masalah nggak selesai-selesai,” ungkapnya.
Dengan kondisi yang dialaminya pihak ELG menyetujui adanya pernikahan siri. Keluarga besar keduanya pun bertemu lagi di salah satu restoran di Denpasar. Pertemuan tersebut ternyata hanya dihadiri ayah kandung FS, saudara ayah FS, dan 3 orang berbadan besar, dan pengacara FS. “Yang saya dan keluarga saya tahu itu kami bertemu untuk membicarakan soal pernikahan siri. Tapi sampai sana topiknya beda lagi, mereka minta tes DNA setelah anaknya lahir. Mereka tetap ngotot, mereka mau tanggung jawab kalau anak ini lahir, tes DNA dulu. Kalau terbukti anaknya Faris mereka mau tanggung jawab,” jelasnya.Ketika bayi tersebut berusia 2-3 bulan, orangtua ELG menyarankan agar ELG membawa ke keluarga FS. Namun ELG sudah pesimis dengan kondisi tersebut, ia mengaku sadar diri pihak keluarga FS tidak menginginkan bayi perempuan tersebut.
Lalu orangtua ELG membawa bayi tersebut ke rumah orangtua FS untuk menagih tes DNA seperti yang disyaratkan keluarga FS. Sesampainya di sana mereka tidak bertemu dengan keluarga FS. Hanya bertemu dengan pembantu keluarga tersebut. Orangtua ELG dan bayinya pun kembali pulang.Tak berselang lama pengacara keluarga FS menghubungi ayahnya, dan mengajak bertemu. Dalam pertemuan tersebut pihak FS menawari uang sebesar Rp100 juta. Dan keluarga FS tidak menghendaki tes DNA lagi. Permintaan tersebut langsung ditolak oleh orangtua ELG.ELG sempat meminta bantuan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2PT2A) Denpasar. Lalu terjadi 2 kali mediasi yang hasilnya keluarga FS tidak mau mengakui bayi perempuan tersebut sebagai cucunya, tidak lagi menghendaki tes DNA, dan hanya mau memberikan uang sebesar Rp100 juga ditambah Rp50 juta. Besaran uang Rp150 juta tersebut disebut sebagai uang tali kasih, dan meminta agar ELG tidak menganggu keluarga mereka lagi.“Kalau memang yang ditakuti saya pengin duitnya mereka. Saya bersedia membuat kesepakatan hitam di atas putih bahwa saya dan anak saya tidak akan menuntut sepersen pun dari keluarga mereka. Tapi akui anak saya. Anak saya berhak tahu siapa bapak ibunya. Tapi tetap mereka nggak mau. Saya cuma pengen anak saya diakui,” jelasnya.
Sementara itu kuasa hukumnya, Ipung melaporkan upaya percobaan pembunuhan atau aborsi ini pada pertengahan Desember 2022 lalu. Rencana aborsi tersebut hampir membunuh seorang bayi perempuan yang saat ini berusia 1 tahun. Pihaknya saat ini masih menunggu kinerja polisi untuk menangani laporan kejadian ini. hingga sekarang ELG dan keluarganya sudah dimintai keterangan.“Di sini saya memakai pasal 53 Ayat 1 KUHP juncto pasal 338 KUHP juncto pasal 75 Ayat 1 tentang Undang-Undang Kesehatan UU Nomor 36 Tahun 2009, dengan ancaman sampai 9 tahun,” ungkapnya.
Pihaknya berharap Unit PPA Polresta Denpasar dapat memberikan keadilan bagi bayi perempuan tersebut. Karena keluarga dari terlapor diketahui tidak menghendaki bayi tersebut lahir.“Saya menunggu itikad baiknya di Faris sama keluarganya. Saya tidak hadir untuk ibunya. Saya hadir untuk si bayi yang ingin dia bunuh. Saya mewakili si bayi hadir di dunia. Saya hanya ingin di Faris bertanggung jawab atas anak itu. Saya hanya ingin selembar kertas bahwa akta kelahiran anak ini punya seornag ibu, dan punya bapak,” ungkapnya. A04

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *