Misa Perdana di Masa Pandemi Covid19 dengan Protokol Kesehatan Super Ketat

Denpasar[KP]-Gereja Katedral Denpasar akhirnya melaksanakan misa pertamanya di awal masa new normal, Minggu (5/7). Misa dipimpin langsung oleh Uskup Denpasar Mgr. Silvester San, Pr. Walau hanya dihadiri sekitar 300 umat dari kapasitas gereja sekitar 2000 orang, upacara tetap dilakukan dengan khusuk dan hikmat. Upacara yang sama sudah dilakukan sejak Sabtu sore (4/7) dan akan dilaksanakan pada Minggu (5/7) untuk misa pagi hari dan sore hari. Upacara berlangsung secara singkat karena ada beberapa bagian tata upacara yang hanya didaraskan tanpa ada nyanyian sebagaimana biasanya.
Menurut Uskup Denpasar, sekalipun gereja di Keuskupan Denpasar sudah dibuka namun protokol kesehatan tetap menjadi panglima tertinggi. Hal ini didasari oleh adanya semangat untuk terhindar dari penularan Covid19 di gereja. Selama tiga bulan, perayaan dilakukan di rumah melalui live streaming dan siaran televisi. Kemudian, awal Juni, Presiden Jokowi mengumumkan New Normal. “Kepada kita semua warga, diminta untuk memenuhi protokol kesehatan. Karena selama 3 bulan, umat ingin cepat selesai dengan situasi yang sulit. Antara kesehatan dan ekonomi harus berjalan seimbang. Makanya protokol kesehatan juga diterapkan di Gereja Katolik secara ketat,” ujarnya. Semua kegiatan ibadat bisa dibuka. Di Keuskupan Denpasar dibuka dengan melaksanakan dengan protokol kesehatan dan anjuran Gugus Tugas. “Mereka yang belum nyaman juga tidak dipaksa ke gereja. Jaga jarak, gunakan masker, cuci tangan, hindari kerumunan. Kita tetap beribadat secara sehat, terhindar dari Covid19. Kita perlu proses dan waktu untuk terus menyesuaikan dengan protokol kesehatan. Kita harus tetap hidup dan tetap sehat,” ujarnya.
Ia meminta seluruh umat untuk mengikuti protokol kesehatan yang sudah sesuai standar. Anjuran pemerintah dan Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid19 tetap menjadi panduan utama. “Kita tidak mau ada umat yang akhirnya tertular saat kegiatan beribadat. Untuk itu terapkan protokol kesehatan secara ketat,” ujarnya. Ia meminta agar umat yang belum merasa nyaman ke gereja boleh tidak ikut ibadat. Anak-anak, para Lansia dan umat yang sedang sakit dilarang mengikuti kegiatan ibadat di gereja dan masih bisa mengikuti ibadat secara live streaming dari rumah masing-masing. “Inilah kehidupan new normal. Umat harus bisa segera menyesuaikan diri dengan hal-hal baru seperti tetap menggunakan masker, mencuci tangan dengan air mengalir, menggunakan handsanitizer, jaga jarak dan seterusnya,” ujarnya.
Pantauan di Gereja Katedral Denpasar menunjukkan, seluruh protokol kesehatan yang berhubungan dengan Covid19 dilakukan dengan sangat ketat. Mulai dari pintu gerbang, umat yang masuk diwajibkan menggunakan masker. Tanpa masker, umat diusir pulang. Sebelum memasuki halaman gereja terbesar di Keuskupan Denpasar tersebut, umat diwajibkan untuk mengecek suhu tubuh. Bila suhu melebihi 37 derajat, umat diminta tidak masuk gereja. Saat memasuki halaman, umat wajib melewati karpet disinfektan dan umat diarahkan untuk cuci tangan di beberapa portabel di beberapa titik.
Saat memasuki pintu bagian dalam, petugas sudah menyiapkan handsanitizer. Sebelum memasuki gereja wajib mencuci tangan dengan handsanitizer. Di dalam gereja, jaraknya sudah diatur secara ketat. Satu bangku hanya bisa diduduki 4 orang. Bahkan barisan bangku dibatasi tali agar umat tidak muda berpindah. Anggota koor juga dibatasi hanya 6 orang. Seluruh petugas upacara selain mengenakan masker juga wajib mengenakan face Shield. A01

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *