Malam Pembukaan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026, Salamander Big Band, Pameran Seni Daur Ulang Pertama, dan Semangat “Bukan untuk Uang” Warnai Edisi ke-13
Ubud[KP]-Sthala Ubud Village Jazz Festival (UVJF) 2026 resmi dibuka malam ini di STHALA Ubud Bali, A Tribute Portfolio Hotel, mengawali dua hari pertunjukan jazz untuk edisi ke-13 festival ini. Upacara pembukaan berlangsung singkat di Giri Stage pukul 18.05–18.20 WITA, sebelum disusul langsung oleh penampilan penuh energi dari Salamander Big Band, orkestra jazz independen asal Bandung yang membawa hampir dua dekade pengalamannya bersama sekitar 27 musisi di atas panggung.
Malam pembukaan turut dimeriahkan oleh rangkaian penampilan lain sepanjang sore hingga malam, dari Rason Trio dan Imelda Rosalin Quintet yang membuka hari, hingga LaDju, Simone Prattico Java Collective, Dattie Do Duo, Straight & Stretch, dan Michael Ananda Trio yang bergantian mengisi Giri Stage dan Subak Stage hingga tengah malam.
Sepanjang festival, pertunjukan berlangsung di tiga area panggung yang saling terhubung: Giri Stage, Subak Stage yang terletak di tepi sungai dengan latar pepohonan beringin dan bebatuan, serta Community Stage, tempat Westside Vinyl DeeJays menghidupkan sesi DJ set vinyl berpadu nuansa jazz sepanjang sore.
Mengomentari filosofi di balik festival ini, Heru Djatmiko, yang mewakili Komite UVJF 2026, mengatakan bahwa Ubud Village Jazz Festival tidak dibangun atas dasar komersial. “Festival ini tidak diciptakan untuk mengejar uang, melainkan murni karena kecintaan pada jazz,” ujarnya.
Semangat serupa disampaikan oleh General Manager STHALA, A Tribute Portfolio Hotel by Marriott, Lasta Arimbawa. Ia mengaku terkesan dengan bagaimana venue yang sama bisa terasa begitu berbeda tahun ini. “Hal pertama yang membuat saya sangat terkesan adalah kreativitasnya. Venue-nya sama, tetapi penataannya benar-benar berbeda. Same venue, different setup. Itu layak mendapat apresiasi,” katanya. Ia juga mengingat kembali momen konferensi pers UVJF pekan lalu, ketika salah satu media menanyakan target jumlah pengunjung kepada Co-Founder UVJF, Yuri Mahatma. “Jawaban Yuri sederhana: ‘I don’t care about the goal. As long as people come and enjoy the show, that’s enough for me.’ Bagi saya, itu pernyataan yang sangat kuat — begitu juga ketika Pak Heru mengatakan festival ini tidak diciptakan untuk mengejar uang, melainkan lahir dari kecintaan terhadap jazz. Dua pernyataan itu menunjukkan bahwa Ubud Village Jazz Festival dibangun dengan hati,” ujar Lasta.
Tahun ini, UVJF untuk pertama kalinya menghadirkan pameran seni rupa sebagai bagian resmi dari festival. Berjudul “Second Life: An Exhibition of Found Materials & Upcycled Art”, pameran ini dikurasi oleh kolektif Kala Patha dan menampilkan karya delapan seniman kontemporer — Ayu Murniati, Defina Sumardji, Ediwe, I Komang Adiartha, Modjo, Nym Handi Ya, Skinner Ohrami, dan Sofiya Shukhova — yang mengolah barang bekas, material daur ulang, dan sisa industri menjadi karya baru.
Konsep pameran ini, yang oleh Kala Patha disebut mengusung tema “Island of Hope”, dirancang sebagai sebuah perjalanan. Di area luar venue, pengunjung disambut oleh poster-poster bergaya propaganda yang mengangkat berbagai persoalan Bali, termasuk overtourism, isu lingkungan, sampah, dan menyempitnya lahan, berdampingan dengan instalasi hasil kolaborasi dengan seniman Edy W yang terbuat dari sandal jepit bekas berbentuk sosok perempuan pembawa batu dari salah satu sungai di Bali. Begitu memasuki venue, suasana berubah menjadi lebih hidup dan berwarna — transisi yang menjadi alasan penamaan “Island of Hope”.
Di dalam venue, Kala Patha menghadirkan galeri pop-up modular, dengan setiap unit pajangan dirancang khusus mengikuti karakter karya masing-masing seniman. Salah satu karya yang menjadi sorotan adalah milik Modjo, yang mengolah sisa material konstruksi seperti kaleng cat bekas dan multipleks menjadi sosok-sosok baru. “Barang yang sudah dianggap selesai atau dibuang belum tentu menjadi sampah. Material-material tersebut justru memperoleh kehidupan baru,” ujar Defina Sumardji, salah satu pendiri Kala Patha.
Pameran “Second Life” dapat disaksikan gratis pukul 13.00–15.00 WITA setiap hari selama festival berlangsung, 7–8 Agustus 2026, di area STHALA. Setelah pukul 15.00 WITA, akses ke pameran mengikuti tiket UVJF 2026 yang sah.
Inisiatif keberlanjutan lain juga hadir di sepanjang area booth Community Stage, di mana Sthala UVJF menyediakan stasiun pengisian daya bertenaga surya hasil kerja sama dengan InfiSolar. Panel surya yang dipasang di titik-titik area tersebut memasok sebagian kebutuhan listrik booth, sekaligus memungkinkan pengunjung mengisi ulang daya perangkat mereka sepanjang festival berlangsung.
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 berlanjut hingga Sabtu, 8 Agustus 2026, dengan rangkaian penampilan termasuk H ZETTRIO asal Jepang, Jadi Peperzak Quartet, dan penutupan oleh Salamander Big Band di Giri Stage.
Tentang Ubud Village Jazz Festival
Didirikan pada 2013, Ubud Village Jazz Festival adalah festival jazz internasional tahunan berbasis komunitas di Bali yang mempertemukan musisi Indonesia dan dunia melalui pertunjukan, edukasi, dan keterlibatan komunitas. UVJF 2026 menandai penyelenggaraan ke-13 festival ini.
