Hadapi Kompetensi Era Digital, Sarjana Pertanian Dituntut Terus Tingkatkan Keahlian
Denpasar[KP]-Menghadapi pesatnya kemajuan teknologi dan informasi, para lulusan perguruan tinggi diminta tidak berpuas diri hanya dengan mengantongi gelar sarjana. Akademika Fakultas Pertanian, Sains, dan Teknologi Universitas Warmadewa (FPST Unwar) dituntut untuk terus mengembangkan kapasitas diri agar mampu memenangkan kompetisi di dunia kerja.
Pesan tersebut disampaikan oleh Rektor Universitas Warmadewa, Prof. I Gde Suranaya Pandit saat memberikan sambutan pada acara Pelepasan Sarjana Ke-80 Periode II Tahun 2026 FPST Unwar di Denpasar pada Rabu (2/9/2026).
Prof. Pandit menegaskan bahwa tantangan di era digital membutuhkan kesiapan SDM yang adaptif dan kompeten. Menurutnya, ijazah saja tidak cukup tanpa diikuti dengan semangat belajar yang berkelanjutan untuk bersaing dengan lulusan dari berbagai perguruan tinggi lain.
“Hari ini Anda dilepas oleh fakultas untuk memasuki era baru. Karena kemajuan teknologi dan informasi, saya berharap anda tidak berhenti sampai di sini. Terus tingkatkan diri untuk memenangkan kompetisi ke depan,” tegas Prof. Pandit di hadapan para yudisiawan.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap perjuangan mahasiswa, Rektor Unwar memberikan hadiah berupa beasiswa bebas biaya perkuliahan program Magister (S2) Ilmu Pertanian kepada lulusan terbaik FPST pada periode ini. Langkah ini diharapkan dapat mendorong lahirnya sarjana yang mampu memecahkan berbagai persoalan di bidang pertanian secara lebih komprehensif.
Predikat lulusan terbaik pada pelepasan kali ini diraih oleh Ni Ketut Sri Rahayu dari Prodi Agroteknologi. Dalam pesan dan kesannya mewakili seluruh yudisiawan, Sri Rahayu mengungkapkan rasa haru serta proses panjang yang harus dilewati di balik pencapaian akademisnya.
“Menjadi lulusan terbaik bukanlah perjalanan yang mudah. Ada banyak malam dilewati dengan belajar, rasa lelah yang disembunyikan, hingga keraguan pada diri sendiri. Namun, arti perjuangan sebenarnya adalah selalu menemukan alasan untuk kembali bangkit,” ungkap Sri Rahayu penuh haru.
Ia mendedikasikan gelar lulusan terbaik tersebut secara khusus kepada kedua orang tuanya yang selalu memberikan doa dan dukungan tanpa henti selama masa studi.
“Gelar ini bukan hanya untuk saya, tetapi untuk bapak dan ibu. Terima kasih karena tidak pernah menuntut saya menjadi yang terbaik, tetapi selalu berpesan agar saya melakukan yang terbaik dan tidak menyerah. Saya berhasil sampai di titik ini karena memiliki kalian,” tambahnya.
Selain kesiapan kompetensi, Prof. Pandit membeberkan bahwa peluang karir bagi para sarjana pertanian terbuka lebar. Jaringan alumni Unwar yang tersebar di berbagai sektor, khususnya di wilayah Indonesia bagian timur, siap membantu para lulusan baru. Ia juga menyoroti peluang dari program strategis pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) yang membutuhkan kontribusi sektor pertanian dalam arti luas. Sejalan dengan hal tersebut, perwakilan orang tua yudisiawan, I Ketut Kariasa, menyampaikan apresiasi kepada para dosen atas bimbingan yang telah diberikan. Ia mengingatkan para lulusan bahwa nilai ilmiah sesungguhnya terletak pada aplikasinya di lapangan.
“Bukan seberapa banyak ilmu yang sudah dipelajari, tapi hal terpenting adalah seberapa banyak nantinya adik-adik bisa terapkan di lapangan agar bermanfaat bagi masyarakat. Teori tanpa ada penerapan dan praktik di lapangan itu akan sia-sia,” tegas Kariasa.
