Memeriksa Kebutuhan PMKRI, Membaca Sosok Alexandro Rolandi
Denpasar [KP] -Di setiap fase lintas era, apalagi menjelang Kongres dan MPA, orang-orang PMKRI, hampir selalu ‘kasak kusuk’ bicara kandidat Ketua PP berikutnya.
Saya tidak memulai catatan ini dari siapa figur itu, tapi kepemimpinan seperti apa yang dibutuhkan PMKRI saat ini?
Jika kebutuhan organisasi sudah lebih jelas, maka figur akan mengikuti.
Bila kita membaca peta PMKRI se Indonesia hari ini, rupanya telah ada 88 cabang dan 3 calon cabang yang tersebar dari Nias hingga Merauke.
Ini jelas bukan organisasi kecil, sehingga bukan memperluas rumah jadi kebutuhan, tapi menjaga agar rumah besar perhimpunan ini tetap satu, solid dan punya arah yang selaras. Dan itu tidak mudah.
Merujuk peta itulah, saya melihat PMKRI hari ini butuh figur pemimpin yang berjiwa pengayom, yang mampu membingkai persatuan sebagai aset, bisa merawat ekosistem kaderisasi, serta berperan menjadi penjaga arah perjuangan.
Jika kebutuhan ini yang akhirnya dijadikan ukuran, maka pertanyaan berikutnya akan menjadi lebih sederhana, figur siapa yang paling mendekati kebutuhan tersebut?
Dalam konteks itulah, saya membaca sosok Alexandro Rolandi. Ini sosok yang satu pekan ini santer dalam diskursus.
Yang menarik dari dia, justru adanya keterhubungan antara profil diri, rekam jejak, pilihan hidup, dan gagasan yang ia tawarkan.
Ini anak tumbuh dalam kultur Papua, berdarah NTT, lalu melewati proses kaderisasinya di Bali. Ini sosok pemimpin yang tegak berjalan di atas tanah persatuan, persis ditengah sensitivitas politisasi etnik.
Setelah menyelesaikan masa tugasnya di cabang, ia memilih pulang ke Sorong Selatan untuk mengajar dan membangun komunitas.
Bagi saya, pilihan semacam ini lebih menarik daripada banyak pidato tentang pengabdian.
Sebab tidak sedikit orang berbicara tentang pengabdian, ketika berada di dalam jabatan, namun tidak semua tetap memilih mengabdi ketika jabatan itu usai.
Pada saat yang sama, saya juga membaca gagasan yang ia tawarkan.
Ia menawarkan tema, meneguhkan nilai, menguatkan kaderisasi, dan memperbarui perjuangan.
Bagi saya ini selaras dengan nafas persoalan yang sedang dihadapi PMKRI hari ini.
Bagaimana menjaga nilai, tanpa terjebak nostalgia, memperkuat kaderisasi tanpa jatuh pada rutinitas seremonial.
Dan bagaimana memastikan perjuangan tetap relevan terhadap perubahan era, tanpa kehilangan identitas.
Kerangka pikir ke-sadar-an pun tepat mendarat, dia mengajak untuk sadar membaca realitas dengan jujur, sadar menjaga nilai, sadar memahami perubahan zaman, lalu sadar menerjemahkannya jadi tindakan.
Di sini jelas ada resonansi kebutuhan perhimpunan dalam gagasannya.
Ada yang bilang, gagasan yang bernas, tidak otomatis melahirkan kepemimpinan yang baik, tapi kepemimpinan yang baik, hampir selalu beranjak dari pijakan yang utuh.
Di titik ini ada kesempatan bagi peserta Kongres dan MPA Ruteng untuk menilai lalu menjawab pilihan kepemimpinan yang selaras kebutuhan hari ini.
Kepemimpinan yang mampu mengubah keragaman PMKRI jadi kekuatan kolektif, lalu bergerak ke arah yang sama.
Jika ini jadi ukuran, maka sosok Alexandro Rolandi, relevan untuk dipertimbangkan.
Ia pernah memimpin cabang, dan itu aliran sungai waktu menempa kemampuannya memimpin orang banyak.
Tapi menjadi seorang Ketua PP PMKRI hari ini itu lautan yang luas, menguji kemampuannya memimpin perbedaan. (Oleh: Valerian Libert Wangge).
