Sutrawan: Partisipasi Politik Tak Berhenti pada Pilihan di Bilik Suara
Denpasar[KP]-Partisipasi politik tidak semestinya berhenti pada keputusan untuk memilih dalam pemilu. Masyarakat, terutama generasi muda, perlu memiliki keberanian untuk mengawal pilihan sekaligus mempersiapkan diri mengambil bagian dalam kepemimpinan.
Anggota Bawaslu Bali, Gede Sutrawan, menyampaikan hal tersebut dalam perbincangan bersama mahasiswa perantau asal Yogyakarta dalam kegiatan Konsolidasi Demokrasi di Kantor Bawaslu Bali.
Menurut Sutrawan, pengalaman generasi muda dalam berorganisasi dan berinteraksi dengan masyarakat dapat menjadi modal untuk memahami sekaligus terlibat dalam proses demokrasi. Karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya ditempatkan sebagai pemilih, tetapi juga perlu didorong untuk menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan di masa mendatang.
“Jangan hanya memilih. Dengan pengalaman yang dimiliki, harus ada keberanian untuk ikut menjadi bagian yang dipilih dan mengikhlaskan diri untuk menjadi pemimpin berikutnya,” ujar Sutrawan pada Senin (31/8/2026).
Pernyataan tersebut muncul setelah Bawaslu Bali mengajak mahasiswa merefleksikan pengalaman mereka dalam Pemilu 2024. Dalam perbincangan yang berlangsung santai, salah seorang mahasiswa menceritakan pengalamannya meyakinkan keluarganya untuk pulang ke Yogyakarta agar dapat menggunakan hak pilih.
Keputusan itu dilandasi kesadaran bahwa memberikan suara bukan sekadar menjalankan kewajiban sebagai warga negara. Ada tanggung jawab untuk ikut menentukan arah pemerintahan yang akan datang melalui pilihan yang diberikan.
Kesadaran tersebut, menurut mahasiswa itu, tumbuh dari proses interaksi dan pengalaman mengikuti organisasi kemahasiswaan selama berada di Buleleng. Dari pengalaman tersebut, ia memahami bahwa keterlibatan dalam politik tidak semata-mata dilakukan pada hari pemungutan suara.
Ketika ditanya apakah sudah puas dengan hasil pilihannya pada Pemilu 2024, mahasiswa tersebut memberikan jawaban yang memperlihatkan pandangan yang lebih kritis.
“Kita tidak cukup hanya memilih, tetapi harus terus mengawal pilihan itu,” katanya.
Bagi Sutrawan, pandangan tersebut menjadi bagian penting dari pendidikan demokrasi. Memilih merupakan salah satu bentuk partisipasi, tetapi demokrasi membutuhkan keterlibatan warga yang lebih panjang setelah proses pemungutan suara selesai.
Partisipasi tersebut dapat diwujudkan melalui pengawasan terhadap jalannya pemerintahan, menyampaikan kritik, serta memastikan kebijakan tetap berpihak pada kepentingan masyarakat.
Pada akhirnya, kesadaran politik tidak hanya melahirkan warga yang menggunakan hak pilih, tetapi juga warga yang bersedia memikul tanggung jawab lebih besar. Dari memilih dan mengawal pilihan, generasi muda diharapkan berani melangkah lebih jauh untuk menjadi bagian dari kepemimpinan itu sendiri.
