April 25, 2026

Belasan Warga Serangan Serbu Ruang Sidang Antar Mawar Putih untuk Pansus TRAP Usai Segel BTID

0
IMG-20260425-WA0043

Denpasar[KP]-Belasan warga Serangan, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar mendatangi Gedung DPRD Bali. Mereka juga didukung oleh belasan warga Jimbaran yang juga dengan tujuan yang sama yakni memberikan mawar putih kepada Pansus TRAP DPRD BALI. Kedatangan mereka bukan untuk menyampaikan protes, melainkan sebagai bentuk apresiasi dan dukungan terhadap langkah tegas Panitia Khusus Tata Ruang, Aset, dan Perizinan (Pansus TRAP) DPRD Bali. Sebab warga menilai, langkah berani Pansus TRAP DPRD Bali telah berhasil menghentikan operasional pembangunan Pelabuhan Marina dengan cara memasang garis batas oleh SatPol PP. Kondisi yang sama terjadi juga di Jimbaran, dimana Pansus TRAP DPRD Bali berhasil menghentikan operasional PT Jimbaran Hijau.

Aksi simbolik ini mencerminkan harapan masyarakat pesisir terhadap keberanian Pansus TRAP dalam mengawal tata ruang dan menjaga kelestarian lingkungan Bali. Mawar putih yang dibawa warga menjadi lambang ketulusan, harapan, dan dukungan damai atas sikap tegas yang dinilai berpihak pada kepentingan rakyat dan alam Bali.

Perwakilan masyarakat Serangan Siti Sapura atau yang dikenal dengan panggilan Ipung menyampaikan apresiasi langsung kepada jajaran Pansus TRAP. Ia menilai langkah yang diambil selama ini menjadi pintu masuk untuk memperjuangkan hak-hak masyarakat yang selama ini terabaikan. “Kami datang bukan untuk menekan, tetapi untuk menguatkan. Apa yang sudah dilakukan di Pulau Serangan menjadi harapan bagi kami. Kami mohon agar perjuangan ini terus dilanjutkan,” ujarnya.

Ipung juga menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak, termasuk Gubernur Bali, aparat penegak hukum, serta instansi terkait yang dinilai telah membuka ruang keadilan bagi masyarakat. Ia menegaskan bahwa warga Serangan membutuhkan dukungan berkelanjutan untuk memperjuangkan hak mereka ke depan. “Kami berterima kasih karena kasus ini kami akhirnya dibuka. Kami berharap tata ruang Bali benar-benar ditegakkan untuk kepentingan masyarakat, termasuk perlindungan pura dan akses jalan yang selama ini tertutup,” ujarnya.

Menurut Ipung, kasus di BTID sudah terjadi sejak lama. Ia sendiri sudah memberikan kajian hukum mulai dari sejarah, fakta lapangan konflik yang terjadi antara warga dengan pihak pengembang PT BTID. Sesungguhnya masih banyak tanah warga yang dicaplok oleh BTID, akses warga yang sangat terbatas ke dalam kawasan, banyak hewan warga yang hilang bila masuk ke dalam kawasan dan seterusnya. Konflik ini terjadi sudah sejak lama dan warga tidak bisa berbuat apa-apa. Kemudian pelanggaran terus terjadi hingga akhirnya diawali dengan kasus tukar guling lahan yang tidak bisa dibuktikan oleh BTID sendiri. Ketegasan Pansus TRAP semoga bisa membuka semua kedok yang disalahgunakan oleh BTID dan semoga kebenaran untuk menjaga alam dan budaya Bali bisa dibuka dengan terang benderang.

Menanggapi dukungan tersebut, Pansus TRAP DPRD Bali melalui Ketua Pansus, Dr (c) I Made Supartha S.H M.H menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan masyarakat. Ia menegaskan bahwa bunga mawar putih yang diterima menjadi simbol komitmen moral bagi Pansus untuk bekerja dengan tulus dan berpihak pada kepentingan Bali. “Ini adalah lambang kesucian. Kami bekerja dengan tulus, ikhlas, dan lurus untuk menjaga tata ruang, aset, dan kebijakan Bali,” tegasnya. Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat dan pemerintah untuk bersatu menjaga Bali, baik dari sisi alam, budaya, maupun kehidupan sosial.

Menurutnya, kekuatan terbesar terletak pada persatuan rakyat. “Tidak ada yang bisa mengalahkan kekuatan rakyat. Kami adalah pelayan, rakyat adalah pemiliknya. Saat ini kita harus kompak menjaga Bali untuk generasi mendatang,” ujarnya. Aksi damai ini menjadi gambaran kuat bahwa isu tata ruang dan lingkungan telah menjadi perhatian bersama. Dari Serangan hingga Jimbaran, suara rakyat kini mengalir ke ruang-ruang kebijakan, mengingatkan bahwa Bali bukan sekadar ruang pembangunan, melainkan warisan yang harus dijaga bersama.Dengan semangat persatuan yang digaungkan, pesan yang disampaikan hari itu sederhana namun kuat: jika bukan masyarakat Bali sendiri yang menjaga alam dan ruang hidupnya, maka siapa lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *