Agustus 15, 2026

Ekowisata Harus Memberikan Kontribusi Nyata Bagi Konservasi Lingkungan Bali

0
IMG-20260814-WA0083

Denpasar[KP]-Ekowisata tidak boleh sekadar menjadi jargon pemasaran atau komodifikasi keindahan alam demi kepentingan ekonomi sesaat. Pengembangan ekowisata di Bali harus mampu memberikan dampak dan kontribusi nyata yang berkelanjutan bagi upaya konservasi lingkungan serta kesejahteraan masyarakat lokal.

Penegasan tersebut disampaikan oleh Ketua Yayasan Shri Kesari Warmadewa, Prof. Dr. Drs. Anak Agung Gede Oka Wisnumurti, M.Si., saat memberikan sambutan dalam pembukaan International Conference on Agricultural Innovation and Ecotourism Environment (CAITEC 2026) pada Jumat (14/8/2026) di kawasan Sanur, Bali.

Konferensi internasional yang mengusung tema “Improving Food Security through Sustainable Agriculture and Ecotourism Practices in the Issue of Climate Change” ini diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi, Universitas Warmadewa sebagai Host utama. Kegiatan kolaboratif ini turut didukung oleh sejumlah perguruan tinggi mitra sebagai Co-Host, yaitu Institut Teknologi dan Kesehatan Bali, Universitas Dhyana Pura, Universitas Markandeya, Universitas Dwijendra, serta Universitas Pelita Bangsa.

Dalam pandangannya, Prof. Wisnumurti menekankan pentingnya mengintegrasikan prinsip-prinsip konservasi ke dalam ranah pariwisata berbasis lingkungan dan sistem pertanian lokal. Menurutnya, di tengah ancaman perubahan iklim global yang makin nyata, sektor ekowisata dan pertanian berkelanjutan harus berjalan selaras untuk menopang ketahanan pangan sekaligus menjaga daya dukung ekosistem pulau Bali.

“Ekowisata dan pertanian adalah dua sektor vital yang saling menopang. Pengembangan ekowisata harus berakar pada pemeliharaan kelestarian alam dan kebudayaan, sehingga mampu memberikan manfaat ekologis yang terukur serta berdampak langsung pada penguatan ekonomi masyarakat,” paparnya di hadapan para akademisi, peneliti, dan praktisi internasional yang hadir.

Forum CAITEC 2026 ini menjadi ruang strategis bagi para peneliti dari berbagai negara dan lembaga perguruan tinggi mitra untuk merumuskan ide, inovasi teknologi pertanian, serta model tata kelola ekowisata yang adaptif terhadap perubahan iklim.

Melalui kolaborasi lintas akademisi dan perguruan tinggi ini, hasil perumusan dari CAITEC 2026 diharapkan tidak berhenti pada tataran wacana akademis belaka, melainkan dapat diimplementasikan dalam kebijakan dan praktik nyata di lapangan demi menjaga keberlanjutan lingkungan Bali dan dunia.

Sedangkan anggota Kelompok Ahli Gubernur Bali, Prof. Ir. Anak Agung Putu Agung Suryawan Wiranatha, MSc., PhD., menegaskan pentingnya arah kebijakan dan regulasi pengembangan pertanian berkelanjutan yang berlandaskan nilai-nilai kearifan lokal Bali, Sad Kerthi.

“Pengembangan sistem pertanian organik di Bali tidak hanya bertujuan meningkatkan nilai dan kualitas produk pertanian, tetapi juga menjaga ekosistem alam serta keanekaragaman hayati. Hal ini diatur secara tegas melalui Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 8 Tahun 2019 tentang Sistem Pertanian Organik,” paparnya.

Prof. Suryawan juga menyoroti komitmen Pemerintah Provinsi Bali dalam mengendalikan alih fungsi lahan produktif melalui Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2026, yang melarang alih fungsi lahan produktif untuk fasilitas usaha pariwisata dan properti demi menjaga kelestarian Subak dan mewujudkan kedaulatan pangan. Selain itu, perlindungan terhadap sumber-sumber air seperti danau, mata air, sungai, dan laut turut diperkuat lewat Peraturan Gubernur Bali Nomor 24 Tahun 2020.

Pada kesempatan yang sama, Associate Professor Michael van Keulen, Dekan Fakultas Ilmu Lingkungan dan Konservasi Universitas Murdoch, soroti tantangan mendasar dalam konservasi lingkungan modern, yaitu fenomena shifting baseline syndrome (sindrom pergeseran garis dasar).
Menurut Mike van Keulen, sains modern kerap mengalami masalah ingatan ( memory problem ), di mana data ilmiah terukur hanya tersedia untuk rentang waktu kurang lebih 100 tahun terakhir. Padahal, dampak aktivitas manusia terhadap ekosistem laut telah berlangsung jauh lebih lama. Hal ini menyebabkan setiap generasi ilmuwan dan masyarakat menetapkan standar “kondisi alamiah/normal” yang terus menurun dibandingkan kondisi aslinya.

“Jika kita melupakan kondisi awal ekosistem yang sebenarnya, kita berisiko menetapkan target konservasi dan pemulihan lingkungan yang salah atau terlalu rendah (inappropriate targets),” tegas van Keulen. Lebih lanjut, ia memperingatkan bahaya creeping normality atau normalisasi terhadap lingkungan yang sudah rusak, serta sikap puas diri (conservation complacency) yang membuat ancaman terhadap kepunahan spesies sering kali terlambat disadari.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Mike van Keulen menekankan pentingnya mengintegrasikan catatan sejarah, data lama, serta cerita dan kearifan lokal (anecdotal records/stories) ke dalam riset ilmiah. Para ilmuwan juga dituntut untuk menyederhanakan komunikasi publik agar kesadaran akan pentingnya menjaga ekosistem asli dapat terbangun secara luas di masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *