Menuntut Ilmu Pertanian dan Sains Harus Berujung Solusi bagi Masyarakat
Denpasar[KP]-Perguruan tinggi menekankan pentingnya peran mahasiswa dalam menjawab berbagai tantangan nyata masyarakat, khususnya di bidang pertanian, sains, dan teknologi. Ilmu pengetahuan yang dipelajari di ruang kuliah dituntut tidak berhenti sebagai teori semata, melainkan mampu menjadi jembatan dan solusi bagi persoalan publik.
Pesan tersebut disampaikan Dekan Fakultas Pertanian, Sains, dan Teknologi (FPST) Universitas Warmadewa, Prof. Dr. Ir. Luh Suriati, M.Si., saat pembukaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) FPST Universitas Warmadewa di Denpasar, Bali, Kamis (3/9/2026).
Suriati menegaskan bahwa keberadaan mahasiswa di lingkungan akademis membawa tanggung jawab sosial yang besar. Aktivitas dan pembelajaran di kampus hendaknya dimaknai sebagai ruang untuk melatih kepemimpinan, kerja sama tim, serta penyelesaian masalah.
“Banyak orang memandang kegiatan kampus sebagai aktivitas tambahan. Namun bagi kita, kegiatan kampus adalah laboratorium kehidupan. Di sanalah mahasiswa belajar kepemimpinan, kerja tim, komunikasi, menyelesaikan masalah, dan membuat dampak nyata,” ujar Suriati.
Menurut Suriati, disiplin ilmu pertanian, sains, dan teknologi bersinggungan langsung dengan kebutuhan dasar manusia dan keberlanjutan lingkungan. Berbagai isu strategis seperti ketahanan pangan, perubahan iklim, efisiensi pertanian, hingga pengelolaan sumber daya membutuhkan penanganan dari generasi muda yang terpelajar.
Oleh karena itu, kontribusi mahasiswa tidak boleh sebatas formalitas atau sekadar berpartisipasi pasif. Kontribusi yang dihadirkan harus relevan dan sejalan dengan kebutuhan riil di lapangan.
“Ilmu yang kalian pelajari seharusnya tidak berhenti di ruang kelas. Ilmu harus mampu menjadi solusi dan menjadi jembatan bagi kebutuhan masyarakat,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa dampak positif bagi masyarakat dapat diwujudkan melalui beragam bentuk aksi, mulai dari pengabdian masyarakat, edukasi sains dan pertanian, pelatihan keterampilan usaha, hingga kegiatan ilmiah dan kewirausahaan berbasis inovasi.
Dalam kesempatan tersebut, pihak fakultas juga mengingatkan pentingnya membangun budaya akademik yang kokoh. Fondasi seperti kedisiplinan, etika, kepedulian sosial, serta kemampuan beradaptasi menjadi syarat utama agar penguasaan keilmuan dapat memberi manfaat optimal.
Suriati menilai, kualitas seorang calon profesional tidak hanya diukur dari tingginya kompetensi teknis, tetapi juga dari kepekaan karakter dan integritas moralnya. “Kompetensi tanpa karakter akan mudah rapuh, sedangkan karakter tanpa kompetensi akan sulit menghasilkan solusi. Karena itu, mahasiswa perlu bertumbuh secara seimbang agar bukan hanya menjadi penuntut ilmu, tetapi juga pembawa manfaat bagi masyarakat,” kata Suriati menegaskan.
