Melekat di Hati Konsumen, Tudingan JNE Danai Terorisme tidak Berdampak

Denpasar[KP]-Suatu pagi, handphoneku terus berbunyi. Hari itu tanggal 10 Desember 2020. Pagi itu aku sedikit sibuk sehingga belum bisa kubuka. Selang beberapa lama kubuka HP. Kaget!!!!. Diskusinya tentang JNE. Maklum, grup WA-ku, anggotanya hampir 400-an orang. Semuanya kaum intelektual. Ada dosen, pengusaha, dokter, praktisi, pengacara, tokoh agama, dan sekitar belasan orang jurnalis. Lebih kaget lagi ketika ada tagar #boikotJNE#. Sebagai jurnalis, saya tidak mudah percaya. Aku ikuti diskusi anggota grup WA satu persatu. Perdebatan sengit. Terjadi pro dan kontra. Diskusi mereda ketika salah seorang anggota grup yakni seorang pengusaha dan tokoh yang cukup dikenal oleh semua anggota grup. Penjelasannya sangat netral dan logis. 
Salah seorang pelanggan setia JNE di Bali, Komang Purnama menjelaskan, dirinya dan keluarga besarnya merupakan pelanggan setia JNE. “Saya dan keluarga besar sudah menjadi pelanggan setia JNE. Ini sudah sejak 5 tahun lalu ketika kami membuka sebuah usaha di beberapa titik. Semua pake JNE. Jadi banyak tudingan melalui media sosial, entah itu benar, atau fitnah, kita sudah tidak peduli lagi. Yang penting adalah apa yang ada di pemikiran kami bahwa JNE itu cepat, tepat, barang aman dan selamat. Itu cukup,” ujarnya. Saat ditanya isu JNE danai teroris, Purnama menjelaskan, jika itu harus dibuktikan. Namun menurutnya, pembuktian itu tidak terlalu penting bagi para konsumen setia JNE. Ia yakin, tagar #boikotJNE# tidak berdampak. “Coba dicek. Berapa dia mempekerjakan tenaga kerja di seluruh Indonesia. Jutaan. Berapa dia melayani masyarakat. Bagaimana servisnya. Itu saja ukuran kita. Jadi dia mau danai teroris atau apa itu urusan pihak berwajib. Kami tetap pake JNE,” ujarnya.
Seperti diberitakan di berbagai media bahwa JNE dituding mendanai terorisme. Kasus ini berawal dari ucapan selamat ulang tahun JNE oleh Ustad Haikal Hassan awal Desember lalu. Kemudian viral serbuan netizen untuk memboikot JNE. Vice President of Marketing JNE Eri Palgunadi akhirnya beberapa kali harus memberikan klarifikasi bahwa tudingan itu tidak benar. Ia menilai bahwa tudingan itu lebih kepada persaingan bisnis dengan para kompetitor. JNE akhirnya menggandeng pengacara kondang Hotman Paris untuk mendampingi memberikan penjelasan kepada publik. Hotman bahkan menantang pihak-pihak yang merasa mengetahui, memiliki bukti kalau JNE itu mendanai teroris atau berafiliasi dengan terorisme. A05

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *