Pangdam IX/Udayana: Persiapan Bali Hadapi Varian Delta masih Kurang

Denpasar[KP]-Pangdam IX/Udayana, Mayjend TNI Maruli Simanjuntak menegaskan, kasus positif Covid19 di Bali yang masih tinggi. Sejak pemberlakuan PPKM Darurat di Bali awal Juli lalu hingga saat ini kasus yang terkonfirmasi positif masih relatif tinggi. Hal ini berbeda di provinsi lainnya di Jawa-Bali dimana sejak pemberlakuam PPKM Darurat hingga saat ini kasusnya menurun. “Di Bali ini sesungguhnya kaget dengan varian Delta yang penyebarannya lebih cepat 7 sampai 10 kali lipat dari varian sebelumnya. Begitu varian ini masuk, Bali bisa dikatakan kewalahan, bukan tidak siap. Sebab sebelumnya, Bali itu terbaik, penanganan cepat, sistem dan kearifan lokalnya sangat kuat. Sampai-sampai Bali pernah ada rencana mau dibuka, lalu ada program work from Bali. Namun sekarang kasus tetap tinggi, ini karena Bali kaget dan kewalahan menghadapi varian delta,” ujarnya saat bertemu sejumlah awak media di Media Center Korem 163/Wira Satya Denpasar, Jumat (20/8/2021). 
Menurut pria yang dijuluki ‘Jenderal Air’ ini, urusan penanganan Covid19 adalah urusan bersama. Selama ini anggotanya yang proaktif melakukan tracing, menjemput dari yang Isoman ke Isoter, support semua penanganan Covid19 di Bali. Namun pihaknya tidak akan bisa berbuat apa-apa bila tidak didukung oleh berbagai pihak seperti Satgas, Dinas Kesehatan, Tenaga Kesehatan, Polri, dan seluruh elemen lainnya. “Kalau dikatakan aparat TNI-POLRI yang paling berinisiatif, proaktif, silahkan saja menilainya. Tapi ini adalah kerja sama semua unsur, bukan TNI saja. Kalau instansi lain tidak support, tidak bisa juga,” ujarnya. Bali ini sudah punya kultur yang baik, bisa jadi contoh. Selama ini TNI jemput ratusan orang perhari dari Isoman ke Isoter. Sebab di Bali ini sudah menyiapkan tempat Isoter yang mewah sekelas hotel. Hanya saja kalau tidak disosialisasi percuma juga. “Kalau Isoternya seperti penampungan bencana alam, maka susah kita di lapangan. Tapi ini hotel, obat dikasih, makan dikasih. Jadi harus dimanfaatkan demi pemutusan rantai penularan,” ujarnya.
Untuk varian delta, Bali ini kurang adanya persiapan untuk menghadapinya. “Kalau saya lihat penyiapan waktu awal kena varian Delta ini, Bali itu kurang. Sementara di awalnya, kita hebat, mulai dari mulai 3M, bisa dikendalikan. Waktu kena varian Delta, mungkin dikira masih sama dengan varian sebelumnya. Padahal kecepatan penularannya 7-10 kali lebih cepat. Disitulah kita kewalahan,” ujarnya. Setelah kasusnya terus naik, baru Bali menyadarinya. Dan untungnya cepat ambil langkah-langkah untuk mencegahnya dengan tracing lebih kencang lagi, evakuasi ke Isoter dan seterusnya. Aparat TNI sudah sangat kencang tracing, bahkan hingga saat ini mampu perhari tracing hingga 20 orang persatu kasus positif. Sekali tracing untuk yang di anggota TNI saja bisa menemukan 200 orang perhari yang positif. “Nakes ini sudah sangat sibuk, mereka harus vaksin, harus ada yang piket di Puskesmas, perawatan di rumah sakit dan seterusnya. Sudah kewalahan. Jadi kita tidak bisa maksimal juga. Makanya kami bantu tracing, kami bantu jemput dari Isoman ke Isoter. Itulah tugas bersama semua unsur yang ada di Bali. Ia mengajak agar dalam penanganan Covid19 di Bali jangan sampai saling mempersalahkan, saling menunggu, apalagi saling curiga. Yang bisa dikerjakan, langsung dikerjakan. A03

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *