Peringati Hari Kartini, Puluhan Gadis Bali Surfing di Kuta Pakai Kebaya Lengkap
Kuta[KP]-Pemandangan menarik terjadi di Pantai Kuta Bali, Minggu pagi (19/4/2026). Puluhan gadis Bali merayakan Hari Kartini ala Pantai Kuta Bali. Bahkan, 6 gadis lainnya merupakan penyandang disabilitas tuna rungu dan tuna wicara. Mereka melakukan surfing dengan menggunakan kebaya lengkap seperti pahlawan nasional wanita Indonesia, RA. Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April setiap tahun. Aksi para gadis Bali ini sangat memukau. Sekalipun mengenakan kebaya cantik, mereka mampu menaklukkan gulungan ombak Pantai Kuta. Mereka mengenakan kebaya berwarna-warni—putih, kuning, merah muda, dan biru muda, dipadukan dengan kamen yang dililit rapi. Rambut mereka disanggul sederhana, beberapa dihiasi bunga kamboja segar. Di tangan masing-masing, papan selancar berjejer, menciptakan kontras unik antara budaya tradisional dan semangat olahraga modern. Kain kebaya mereka berkibar tertiup angin, namun tetap anggun. Kebaya yang dikenakan tidak menghalangi gerakan, namun justru menciptakan pemandangan yang memukau, perpaduan harmoni antara tradisi Bali dan energi laut.
Aksi para gadis Bali ini sampai menghentikan aktivitas para turis asing dan lokal yang sedang memadati Pantai Kuta. Para turis ini tampak diam mempesona menyaksikan aksi gadis Bali yang mengenakan pakaian lengkap namun bisa berselancar di atas ombak, berdiri dengan seimbang mengikuti gulungan ombak. Wisatawan dan warga lokal berhenti sejenak, mengabadikan momen tersebut. Beberapa bertepuk tangan, terpukau oleh keberanian dan keindahan yang ditampilkan, sebab dari atas ombak, para gadis itu tersenyum lebar, menikmati kebebasan, menjaga identitas, dan merayakan budaya mereka dengan cara yang tak biasa.
Ketua Panitia Acara Bagus Made Irawan atau yang lebih dikenal dengan panggilan Piping menjelaskan, penampilan para gadis Bali ini digelar dalam serangkaian acara bertajuk “Kartini Go Surf 2026” yang digelar di Pantai Kuta Bali. Ia mengaku, sesungguhnya acara yang sama pernah digelar di Pantai Merah Banyuwangi, di Jembrana. “Kalau di Pantai Kuta, sudah digelar sejak tahun 2010, setiap kali kita merayakan Hari Kartini. Kenapa, karena kita semua dilahirkan dari seorang ibu. Dan harus menghormati seorang ibu. Tanpa ibu maka punahlah manusia di dunia ini,” ujarnya.
Untuk event Kartini Go Surf 2026 kali ini dan tahun-tahun sebelumnya, tidak ada kompetisi para surfer profesional. “Kami buka event, buka panggung, terbuka untuk publik. Semua wanita bisa tampil asal dengan kebaya. Sebab ini peringatan Hari Kartini Indonesia,” ujarnya. Ia dan tim membuka event Kartini Go Surf 2026 bukan untuk kelas profesional, tetapi untuk budaya dan tourism. “Ini pengembangan tourism, destinasi Pantai Kuta, dan juga akan digelar di pantai lainnya di Bali atau di luar Bali. Untuk Pantai Kuta ini merupakan gelaran terakhir, dengan tujuan untuk memperkenalkan pantai lainnya di Bali,” ujarnya.
Acara dibuka langsung oleh Ketua Persatuan Surfing dan Selancar Ombak Indonesia Provinsi Bali I Nyoman Graha Wicaksana. Pembukaan acara dilakukan secara simbolis dengan pengguntingan pita yang didampingi para peserta. Ia menjelaskan, surfing itu identik dengan pantai. Di Pantai Kuta Bali, surfing sudah melegenda, digunakan oleh para turis asing. Dan kali ini, di perayaan Hari Kartini, tampil para gadis Bali dengan mengenakan kebaya lengkap dan cantik. “Disinilah letak kekhasan Pantai Kuta Bali, yang bisa menampilkan wanita berkebaya bisa surfing,” ujarnya. Ia berharap dari ajang Kartini Go Surf 2026 ini bisa para surfer legend wanita asal Bali, dengan kekhasan budaya lokalnya.
Salah seorang peserta Kartini Go Surf 2206 Sang Ayu Putu Anastasya Mega Dewi mengatakan, surfing dengan menggunakan kebaya itu merupakan pengalaman tersendiri. Gadis 19 tahun ini mengaku, walau lahir dari keluarga surfer, berada dalam komunitas surfing, namun tampil dengan kebaya cantik dan lengkap ini menimbulkan sensasi dan kebanggaan tersendiri. “Saya mulai tampil surfing dengan kebaya tahun 2022 lalu. Awalnya memang susah, namun saya terus berlatih giat. Dan saat ini sudah tidak susah lagi,” ujarnya. Hal ini terbukti saat Mega Dewi terjun ke laut, dimana gadis cantik yang baru lulus dari SMA Negeri Kuta ini bisa berdiri dengan seimbang di atas papan surfing dan mampu berlekak-lekuk di atas ombak.
Saat ditanya mengenai moment perayaan Hari Kartini, Mega Dewi mengatakan bahwa RA Kartini itu menginspirasi wanita Indonesia untuk kuat menghadapi tantangan, sebagaimana ombak dan arus lautan. “Saya mengajak teman teman wanita Bali dan Indonesia, tetap semangat, bangun Indonesia dan Bali tanpa pamrih. Dan juga penting, wanita itu tetap cantik walau terkena sinar matahari, sebab kecantikan itu lahir dari dalam,” ujarnya.
