Januari 21, 2026

Seni untuk “Healing”: Penulis Pameran Lukisan

0
IMG-20250816-WA0037

Jakarta[KP]-Penulis Putu Fajar Arcana menggunakan aktivitas melukis sebagai metode healing bagi batinnya yang terluka. Tumpahan cat dan warna-warna yang
berpendar di atas kanvas, telah membuatnya seperti memasuki alam meditasi. Proses melukis membimbingnya menjadi lebih rileks dan perlahan menemukan ketenteraman batin. Penulis senior itu kini siap memamerkan puluhan karya terbarunya. Lukisan-lukisan hasil healing selama 2 tahun terakhir ini, akan dipamerkan dalam A Solo Exhibition “Chromatica”, 17-21 Agustus 2025 di The Gallery, The Dharmawangsa Jakarta. Sedangkan pembukaan pameran akan digelar, Sabtu (16/8/2025), pukul 18.00 WIB, dan akan
diisi dengan pertunjukan teater “Tubuh Bertumbuh: Dukkha-Daya-Cahaya”.

Pameran ini dikuratori oleh Trianzani Sulshi, seorang arsitek muda yang banyak menjadi kurator dalam
berbagai pameran dan pementasan seni. Pentas teater akan menampilkan aktris Sha Ine Febriyanti, Joane Win, dan penari Try Anggara. Ketiganya akan berkolaborasi dengan memainkan naskah karya Angelina Arcana.
Pertunjukan ini menggabungkan seni sastra, teater, tari, seni rupa. Pameran ini terselenggara berkat kerja sama Arcana Artworks, The Dharmawangsa, dan Bakti Budaya Djarum Foundation. Didukung juga oleh In-lite, Sango, dan Sababay.

Menurut Project Manager Chromatica, Angelina Arcana, proyek seni ini memang berniat memadukan antara sastra, teater, tari, dan seni rupa. Meskipun, katanya, seni rupa akan
menjadi presentasi yang paling menonjol. “Kebetulan pelukisnya, selama masa Covid-19 mendalami teknik melukis fluid art, yang
dianggap mampu mengalirkan kegundahan batinnya. Teknik ini sebenarnya seperti art moment,
seni yang tidak bisa diduplikasi. Ia hanya terjadi pada momen tertentu dan karena itu sangat dekat dengan kondisi kebatinan senimannya,” ujar Angel, Selasa (12/8/2025) di Jakarta.

Puluhan karya Angel menambah pameran tunggal “Chromatica” Putu Fajar Arcana yang menampilkan 34 karya dalam periode dua tahun terakhir. Karya-karya terdahulu, yang ia
kerjakan pada periode 2022-2023 tidak turut ditampilkan karena alasan teknis artistik. “Kita akan tampilkan lukisan-lukisan yang diciptakan pada periode 2024 dan 2025, karena pada fase inilah pelukisnya merasa perlahan menuju kesembuhan dan menemukan jalan kesenirupaan yang berbeda,” kata Angel.

Menurut Putu Fajar Arcana, kata “chromatica” dinilai mampu mewakili pencariannya dalam dunia seni rupa. Warna-warna, sesungguhnya tercipta dari satu gelombang cahaya yang
dipantulkan oleh sumber cahaya. “Ini hukum yang dicetuskan oleh Isaac Newton, di mana setiap
warna tercipta tergantung dari panjang pendeknya gelombang,” ujar Putu.

Seniman yang kini bertransformasi dari penulis ke pelukis ini, menempatkan warna sebagai wujud nyata dari gelombang cahaya. “Dan warna itu terpadatkan lewat lukisan. Karena
itu, lukisan bersumber dari cahaya yang dibutuhkan dalam proses healing,” katanya.

Saat melukis, Putu melakukan proses yang berbeda dibandingkan dengan proses melukis pada umumnya. Ia sama sekali tidak menggunakan kuas sebagai alat utama dalam melukis.
Pelukis yang juga sutradara teater ini, menggunakan tiupan angin, panas api, dan tumpahan air untuk membentuk lapis demi lapis warna di atas kanvas.
Oleh sebab itu, ia menyebutnya karya-karyanya tercipta dengan mengeksplorasi elemen-elemen alam. “Dan itu sangatlah dekat dengan meditasi, di mana kita menyadari
keberadaan kita sebagai makhluk di tengah-tengah semesta yang maha besar ini. Penyadaran diri ini penting dalam proses healing,” ujar Putu.

Hariadi Jasim dari The Dharmawangsa Jakarta berharap agar pameran “Chromatica” menjadi penanda bahwa hotel di wilayah selatan Jakarta itu, menjadi pusat pengembangan
kebudayaan. “Hotel ini juga didesain dengan memadukan unsur-unsur budaya Jawa dan Barat. Semoga perpaduan itu menjadi rumusan penting dalam pencapaian kebudayaan modern
Indonesia,” ujarnya.

Menurut Angel, selama pameran berlangsung akan digelar beberapa aktivitas seperti artist tour dan art for healing. Saat artist tour, pelukis akan menarasikan proses penciptaan
pada setiap lukisan, termasuk berbagai pengalaman spiritual yang menyertainya. Para peserta aktivitas ini akan dijaring melalui akun Instagram: @arcanaartwoks.

Profil Seniman
Putu Fajar Arcana, lahir di Negara, Bali tahun 1965. Putu lebih dikenal sebagai jurnalis dan penulis. Ia menjadi jurnalis harian Kompas Jakarta 1994-2022. Buku-buku tunggalnya diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas berupa novel, cerpen, puisi, drama, dan esai. Selama masa Covid-19 mendalami teknik melukis dutch pour dengan menggunakan alat-alat melukis tak biasa. Ia kemudian memperkaya teknik ini dengan mengembangkan konsep melukis berdasarkan lima unsur alam: padat, cair, api, angin, dan gas. Pertama
kali berpameran saat membantu para petani di Gianyar dengan mengikuti pameran Lukisan Bukan
Pelukis (1999) di Bali Mangsi Denpasar. Kemudian menggelar pameran Mencuri Waktu (2000) di kantor
Kompas Biro Denpasar, pameran seni rupa Lindu (2006) di Bentara Budaya Yogyakarta, Grateful Dead
(2013) di Bentara Budaya Jakarta. Tahun 2024 dan 2025 menyumbangkan karya dalam lelang Sidharta Auctioneer Jakarta untuk mendukung Indonesian Dance Festival (IDF).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *