DPD Ajak Puluhan Duta Besar Bertemu di DRM Kuta

Kuta [KP]-Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari seluruh provinsi di Indonesia menggelar acara Diplomatic Regional Meeting (DRM) di Kuta Bali, Jumat (7/12). Dalam DRM kali ini, panitia penyelenggara dari DPD RI mengundang puluhan duta besar dari berbagai negara yang ada di Indonesia, para Konsulat Jenderal (Konjen), para gubernur, bupati dan pejabat lainnya. Pertemuan dilakukan selama dua hari berturut-turut di Kuta Bali. Selain unsur pemerintah dan perwakilan dari berbagai negara, DRM juga mengundang puluhan UKM dengan berbagai produk dari berbagai daerah di Indonesia untuk ikut memamerkan produknya di ajang DRM tersebut.

Ketua DPD RI Oesman Sapta Odang (Oso) mengatakan, DRM kali ini bukan ajang jual politik dalam rangka pemenangan Pileg dan Pilpres. DRM kali ini bertujuan untuk mempertemukan para pejabat di daerah dengan berbagai perwakilan negara asing yang ada di Indonesia. Tujuannya, agar mereka bisa saling tukar informasi, melihat peluang dan kesempatan untuk menjual berbagai produk dalam negeri ke Indonesia dan sebaliknya. “Apa yang bisa dikembangkan, karena kita sudah membuka pintu sekarang agar para duta besar bisa langsung ke daerah-daerah. Ke depannya, pemerintah daerah harus bisa lebih proaktif, kontinou. Lantas kita bisa menjual produk kita, mengeksplor produk kita dan mereka bisa membeli langsung ke daerah-daerah melalui mekanisme yang telah diatur dalam sistem yang dibangun oleh Indonesia,” ujarnya. Menurutnya, DPD itu harus selalu berperspektif daerah, bukan politik yang dibawa. Oleh karena itu RDM ini sangat penting dimana para kepala daerah dan instansi terkait bisa berkomunikasi langsung dengan para perwakilan dari berbagai negara di dunia untuk mengetahui cela, kesempatan, peluang bisnis yang harus dibangun.

Menurut Oso, RDM digelar sejalan dengan usaha pemerintah untuk mengumpulkan dolar sebanyak-banyaknya. “Kita sekarang sedang berpikir bagaimana mengumpulkan dolar sebanyak-banyaknya. Kalau dolarnya banyak, ada kemakmuran rakyat. Kenapa, karena produknya yang dibeli oleh importir. Dengan demikian, akan meningkatkan penghasilan rakyat secara langsung, tanpa melalui pengantara,” ujarnya.

Saat ditanya, bagaimana tanggapan para duta besar dan Konjen, menurut Oso, semuanya menyambut positif. Bahkan, RDM menjadi ajang tukar informasi antara Indonesia dengan negaranya. “Bagus sekali. Mereka malah ada yang tidak terundang, datang sendiri. Jadi kita bilang kita akan kontinu mengadakan kegiatan ini. Kalau perlu setiap kita pertemukan mereka dengan pemerintah daerah. Jadi bisa mengundang setiap permasalahan di daerah, baik pemerintah daerahnya, maupun UKM atau sektor bisnis dan jasa lainnya,” ujarnya. Jual beli dilakukan secara langsung, tidak ada manuver politik, tidak ada pihak yang mencari keuntungan dan seterusnya. RDM harus mampu menyatukan pandangan antara pemerintah daerah, para pelaku UKM dan dengan pemerintah pusat dan calon pembeli dari berbagai negara yang mampu dipertemukan. “Dengan RDM, tidak akan melakukan manuver-manuver  yang selama ini terhambat, bagaimana meluruskan, bagaimana membantu daerah melalui pemerintah pusat, bisa membangun suatu komunikasi yang membuat mereka bisa mudah dan lancar untuk melakukan kegiatan-kegiatan perdagangan itu sendiri. Peran para Dubes itu sangat besar, karena mereka juga seperti kita. Kita akan memerintahkan agar kita menjual di luar, bukan politik yang diprioritaskan tetapi save our product dengan asing, dengan dalam negeri. Mereka juga diinstruksikan untuk bagaimana menjual barangnya ke dalam negeri. Itu yang harus kita kontrol. Saling menguntungkan kedua belah pihak,” ujarnya. A05

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *